Video Seminar Saya di Youtube Menanti untuk Anda Tonton

Dari hasil agenda seminar yang telah terselenggara, videonya saya upload ke Youtube. Semoga bermanfaat dan mengilhami inspirasi harian Anda. Search Keyword: M Arafat Imam G

4 e-Book Full Colour karya M Arafat Imam G

Buku karya Arafat selama 4 tahun masa pendidikan di IPDN hanya tersedia pada versi e-Book Full Colour di Google Play Store. Klik Gambar untuk terhubung pada link download.

Kumpulan Meme Instagram Kekinian Arafat

Kumpulan Meme dari Arafat hasil kreasi dari Tim Kim-Ara Grafis bisa dilihat dengan mengklik gambar ini. Meme Just for Fun yaa...

Zakat=Pembersih Harta; Sedekah=Kunci Sukses

Sesibuk apapun aktivitas arus keuangan pekerjaan dan kebutuhan harian Anda, sisihkan sebagian rezekimu untuk bersedekah dan berzakat. Bukan diberikan kepada pengemis, lebih baik pada badan amil yang terpadu nasional seperti di www.dompetdhuafa.org.

Thursday, March 31, 2016

150 Anggota Gita Abdi Praja IPDN Meriahkan Pawai Budaya HUT Kota Bekasi ke-19

KOTA BEKASI, Pawai Budaya guna memeriahkan HUT Kota Bekasi ke-19 diisi dengan pertunjukan Drumband dari 150 anggota Gita Abdi Praja (GAP) Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Pawai budaya digelar sepanjang jalan Ahmad Yani Kota Bekasi dari perempatan kayuringin dan finish di Summarecon Bekasi pada hari Sabtu, 12 Maret 2016, kegiatan lalu dilanjutkan dengan display pada acara pembukaan Bekasi Expo 2016 bertempat di halaman parkir motor Summarecon Bekasi.

Parade display Drumband GAP IPDN Angkatan 24
Full Video Youtube Drumband IPDN dalam HUT Kota Bekasi dapat dilihat di: [HD Cam Drone] Display Drumband GAP IPDN 24 pada Pawai Budaya 2016, HUT Kota Bekasi ke-19

Sambutan Hangat Malam Inagurasi

Sesuai Surat Walikota Bekasi perihal Permohonan Personil GAP Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Dalam Rangka Mengisi Acara HUT Kota Bekasi Ke-19 dan balasan surat Gubernur IPDN perihal Persetujuan Acara dalam Rangka Mengisi Acara HUT Kota Bekasi, anggota GAP berserta para pengasuh/pendamping IPDN diberangkatkan dari Kabupaten Serang. Mereka tiba di Asrama Haji Bekasi pada hari Jumat, 11/3/2016 pukul 15.30 WIB. Mereka diberangkatkan dari Kabupaten Serang dikarenakan dalam waktu yang bersamaan, Nindya Praja Kampus Jatinangor sedang melaksanakan tugas Praktek Lapangan disana selama sebulan.

Guna memberikan sambutan selamat datang dan memberikan mempersiapkan semangat/motivasi para Praja ini pada penampilan esok harinya, Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) Kota Bekasi dipimpin Drs. Aceng Solahudin, selaku Ketua Dewan Pengurus, menggelar acara “Malam Inagurasi IKAPTK Kota Bekasi bersama Anggota GAP IPDN”, bertempat di Ballroom Hotel Aston Jalan Ahmad Yani Kota Bekasi, pada malam harinya sejak pukul 19.00 WIB. Kegiatan Malam Inagurasi ini menjadi momentum kebersamaan antara alumni IPDN dengan para Praja IPDN terutama Nindya Praja (Tingkat 3) anggota Gita Abdi Praja.

Wakil Walikota Bekasi, H. Ahmad Syaikhu, turut hadir untuk menyambut kedatangan para praja IPDN ini. Atas nama Pemerintah Kota Bekasi dan Walikota Bekasi, ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Praja IPDN dalam memberikan kontribusi guna kemeriahan rangkaian acara HUT Kota Bekasi ke-19.

"Pemkot Bekasi, Walikota dan saya, berterima kasih pada peringatan HUT Kota Bekasi ke-19. Semoga penampilan kalian besok, sukses dengan menyuguhkan atraksi yang menarik warga Kota Bekasi," ujar Ahmad Syaikhu.

Lebih lanjut, kata Syaikhu, di dalam Pemerintahan Kota Bekasi banyak dibantu sumbangsih para alumni IPDN yang sekarang ini banyak menduduki jabatan strategis. Harapannya, agar praja IPDN yang masih mengenyam pendidikan mampu mengikuti jejak para alumni yang sukses berkarir di dunia pemerintahan.

"Saya harap para alumni, praja IPDN menjadi tumpuan dari berlangsungnya pemerintahan di masa depan. Mengusung semboyan Bhineka Nara Eka Bhakti," ucapnya.

Selain itu, para alumni dan Praja juga diharapkan menjadi pioner dalam mewujudkan pemerintahan yang good goverment dan clean goverment. Terutama guna menuju visi Kota Bekasi yang Maju, Sejahtera dan Ihsan.

Sementara itu, Cahyadi, selaku perwakilan pembina Drumband GAP IPDN mengaku senang atas sambutan dari Pemerintah Kota Bekasi. Menurutnya, baru pertama kali ini kedatangan GAP dijamu dengan begitu meriah, suasana yang mewah ditambah lagi dengan hiburan musik.

"Terima kasih atas sambutannya. Semoga besok kami dapat menambah kemeriahan HUT Kota Bekasi Ke-19 di tengah-tengah masyarakat," kata Cahyadi.

Selepas acara penuh kehangatan tersebut, para Praja dan pendamping menginap dan mempersiapkan peralatan dan perlengkapan display selama satu malam di penginapan Asrama Haji Bekasi.

Gemuruh Antusias Display Drumband IPDN

Berawal dari Asrama Haji, 150 anggota GAP IPDN memulai permainan musiknya beriringan untuk menuju titik start di Jl. Jend. Ahmad Yani Bekasi (Perempatan Kayuringin). GAP IPDN menempati posisi start terdepan untuk membuka jalan penampilan peserta lain pada Pawai Budaya Kota Bekasi tahun 2016.

Selain penampilan dari Praja IPDN, pawai budaya juga diisi pameran budaya dari tiap kecamatan, kelurahan, dinas dan intansi se-Kota Bekasi. Pawai budaya juga mengikutsertakan elemen masyarakat lainnya serta pelajar se-Kota Bekasi. Mereka semua akan berjalan parade sepanjang jalan Jend. A. Yani melewati Jembatan Summarecon Bekasi menuju panggung utama/kehormatan, lokasi Walikota berserta Wakil Walikota dan seluruh unsur Muspida Kota Bekasi, di areal pertokoan Summarecon Bekasi.

Sepanjang jalan parade, display anggota Drumband GAP IPDN mempertunjukan musik yang dapat berkolaboratif dengan baik dengan diiringi oleh atraksi ekstrem dengan unsur daya tahan fisik personal dan grup teknikal yang tinggi. Penampilan terbaik mereka pada akhirnya mampu membuat antusiasme masyarakat Kota Bekasi semakin ramai, mereka berbondong-bondong menonton pada kedua sisi jalanan A. Yani. Beberapa dari mereka mengabadikan momen tersebut dengan berselfi dan merekam video menggunakan kamera, handphone dll.

Beberapa dari anggota IKAPTK Kota Bekasi yang mendamping parade GAP mengaku, dengan adanya kegiatan ini, beberapa dari masyarakat banyak yang termotivasi untuk mendaftarkan dirinya atau anak-anaknya masuk ke IPDN, serta berbagai tanggapan puas lainnya terhadap kelangsungan display drumband GAP. Hal ini tentu memberikan citra positif kepada lembaga IPDN di wilayah Kota Bekasi.

“Kalau bisa setiap tahun pak, Drumband IPDN tampil di acara HUT Kota Bekasi seperti ini.” ucap salah seorang masyarakat.

“Penampilan ini (Display Drumband GAP) yang saya tunggu-tunggu Pak.” ujar salah seorang lainnya.

Kejutan diberikan oleh Walikota Bekasi, Dr. Rahmat Effendi dan Wakil Walikota Bekasi, H. Ahmad Syaikhu, ketika mereka berfoto ala anggota bass drum, dengan berdiri diatas dua bass drum yang disusun sejajar serta memanggul sebuah bassdrum lainnya dipundak mereka.

Walikota Bekasi, Dr. Rahmat Effendi, berfoto pada Panggung Utama Pawai Budaya 2016




Wakil Walikota Bekasi, H. Ahmad Syaikhu, berfoto pada Panggung Utama Pawai Budaya 2016

Selepas kegiatan Pawai Budaya, display GAP IPDN diarahkan menuju halaman parkir motor yang diubah menjadi lokasi Bekasi Expo 2016. Anggota GAP IPDN membuka kegiatan tersebut dengan display atraksinya.

Meskipun pada saat bersamaan turun hujan gerimis, 150 Praja IPDN tidak gentar dan tetap melanjutkan displaynya. Hal yang spesial adalah ketika mereka memainkan musik berjudul Selamat Ulang Tahun dari Jamrud seraya membentuk formasi baris bertuliskan HUT BEKASI. Momen tersebut diabadikan IKAPTK Kota Bekasi dengan menggunakan cam drone dari ketinggian, sehingga tulisan HUT BEKASI dapat diabadikan dengan jelas.



Pada pengakhiran kegiatan, 150 anggota GAP IPDN menggelorakan semboyan IPDN, ucapan selamat ulang tahun Kota Bekasi dan salam patriot spesial didedikasi pada masyarakat Kota Bekasi.

“Bhinneka Nara Eka Bhakti, PRAJA! Selamat ulang tahun Kota Bekasi yang ke-19! Salam Patriot! KOTA BEKASI MAJU!” ucap seluruh anggota GAP IPDN. (Berita/Foto: M. Arafat Imam G “Bekasi XX”)

Full Video Youtube Drumband IPDN dalam HUT Kota Bekasi dapat dilihat di: [HD Cam Drone] Display Drumband GAP IPDN 24 pada Pawai Budaya 2016, HUT Kota Bekasi ke-19

CREDIT:

Penyelenggara:
Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK)
APDN/STPDN/IPDN Kota Bekasi

Thanks to:
Institut pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)
Pemerintah Kota Bekasi
Panitia HUT Kota Bekasi ke-19
Masyarakat Kota Bekasi 

Monday, November 30, 2015

Ikhtisar Kim Ara sebagai Penulis Naskah Cerita


Pengenalan Singkat Kim-Ara sebagai Penulis Naskah

Kim-Ara’s Value

Kim-Ara adalah nama pena dari duo penulis bersaudara serba bisa yang saling melengkapi. Kim-Ara tidak hanya sekedar menulis, tapi Kim-Ara berusaha membangkitkan semangat pembaharuan dan berkeras hati menyempurnakan ide pada setiap baris dalam tulisannya. Membuat setiap detail pada kerangka plot, karakter tokoh, metodologi cerita dan urutan klimaks cerita hingga meraih puncak emosi pembaca telah diukur dalam konsep keilmuan dan teknologi mutakhir.

Kim-Ara’s Experience

Kim-Ara menggeluti kepenulisan novel fiksi, buku motivasi/pengembangan diri, buku biografi tokoh dan buku ilmiah populer. Kim-Ara juga telah dianugerahi beberapa rekor prestasi serta penghargaan prestisius lain oleh beberapa pihak.

Kim-Ara’s TECHNOSwrite Method

Kim-Ara membaurkan proses kepenulisannya dengan menggunakan metode TECHNOSwrite (Singkatan dari Technology in Smart Writing) yang Kim-Ara ciptakan sendiri. Metode TEKNOSwrite membantu Kim-Ara membentuk kerangka plot, karakter tokoh, metodologi cerita dan urutan klimaks cerita yang lebih tangguh dan berkarakter.

Setiap detail baris tulisannya telah diukur dalam konsep keilmuan dan teknologi mutakhir yang menjadi resep rahasia kami.

Kerangka Plot

Kim-Ara mendesain ceritanya dalam sebuah outline yang berkarakter kuat sesuai karakter kepenulisan penulisnya. Karakter plot yang tangguh merupakan jiwa dari cerita yang mampu membangkitkan semangat pembaharuan.


Karakter Tokoh

Kim-Ara membuat tabel detail kepribadian, karakter, penampilan dan backstory pada setiap tokoh berdasarkan realita psikologis di masyarakat yang sesungguhnya. Berdasarkan hal itu, setiap tindakan yang dilakukan oleh tokoh akan dipertimbangkan Kim-Ara apakah itu layak atau tidaknya.


Metodologi Cerita

Kim-Ara menetapkan kaidah baku guna menyokong kerangka plot yang tangguh. Metode penceritaan, cerita kilas balik, foreshadowing, formula premis cerita, sudut pandang omnisien terbatas dll membuat pembaca dapat memperoleh nilai lebih pada estetika cerita kami.


Urutan Klimaks Cerita

Kim-Ara mengukur dan mengurut klimaks sesuai takaran yang seimbang. Dimulai dari ketegangan yang rendah, meningkat menjadi klimaks hingga menemukan resolusinya.


Kerangka Kepenulisan

Kim-Ara mendesain materi pembahasannya dalam sebuah outline yang berkarakter kuat sesuai karakter kepenulisan penulisnya. Karakter plot yang tangguh merupakan jiwa dari cerita yang mampu membangkitkan semangat pembaharuan.

Kim-Ara’s Media Center

Jika ingin berdiskusi, Kim-Ara dapat ditemui pada laman media sosial facebook dengan alamat www.facebook.com/KimAraAsia

©Kim Ara Holdings Group. All Rights Reserved

Ikhtisar Novel Thriller KEEPO karya Kim-Ara



Genre: Thriller, Sci-Fi, Pcychology, Action, Romance. Ratting: 20 Tahun Keatas (Mengandung aksi pembunuhan, tokoh berkelainan jiwa)


Ikhtisar Novel Thriller berjudul KEEPO oleh Kim-Ara


Enam belas mahasiswa terbaik dunia dalam spesialisasi berbeda terdaftar masuk dalam Akademi Kesejahteraan, sebuah sekolah paska sarjana harapan tertinggi Negara. Namun ternyata sebuah boneka beruang hidup bernama Babebear telah mengambil-alih Akademi dan membuat mereka terjebak dalam skema permainan mematikan. Mereka diberangkatkan ke berbagai lokasi dengan ancaman pembunuhan tingkat tinggi yang sangat tidak masuk logika manusia normal. Kondisi itulah yang membuat Akademi ini justru berubah menjadi sebuah Akademi Kesengsaraan!

Kelima belas mahasiswa Akademi Kesejahteraan adalah seorang Super Duper Pengusaha, Agen Intelijen, Programer, Ilmuan Science, Tokoh Politik, Dokter Spesialis Syaraf, Tentara, Artis, Model Majalah Dewasa, Pembelajar, Atlit Olimpiade, Reporter, Chef dan Dukun, masing-masing dari mereka telah mencatatkan dua belas prestasi mendunia. Sedangkan aku hanya seorang PNS biasa yang terdaftar masuk hanya karena sebuah undian lotre bodoh! Mungkin seharusnya aku sudah mengetahui kejanggalan ini sejak awal, namun apa daya, aku harus menerimanya sepanjang kisah pilu ini berlangsung.

Seiring berjalannya permainan ini, kami menemukan fakta-fakta aneh yang terlihat. Ini bukan hanya kisah perjalanan antar lokasi, ini juga perjalanan antar waktu dan ruang! Sebuah konsepsi ilmu anatomi manusia tingkat tinggi pada akhirnya mengalihkan pencarian dari misteri dalang skema permainan ini menjadi misteri tentang ilmu pengetahuan modern.

Ada kejadian besar apa sesungguhnya dibalik misteri ini? Siapa yang menjadi dalang utamanya? Kami harus menjawabnya atau kamilah yang mati. Ini adalah mata pelajaran kehidupan terbesar dalam hidupku yang harus dibayar mahal dengan kematian teman-temanku!

PENUH EMOSI! PENUH ADRENALIN! PENUH MISTERI! Persiapkan diri Anda untuk hanyut dalam kondisi psikologis terliar manusia!

©Kim Ara Holdings Group. All Rights Reserved

Friday, November 20, 2015

Penulis Hanya Ingin Pembaca Untuk Membaca (Catatan 7, 9 Minggu Sebelum Pengukuhan)

Senin, 17 Juni 2013. (9 Minggu Sebelum Pengukuhan)

PENULIS HANYA INGIN PEMBACA UNTUK MEMBACA

Buku Catatan Akhir Kuliah: Praja Penulis Buku karya M. Arafat Imam G Dapatkan di Google Play Store

“Anda tidak akan tahu betapa enaknya Bakso Malang sampai Anda ke Malang dan mencicipi langsung Bakso tersebut. Seperti itulah membaca, kita tidak akan tahu begitu bermanfaatnya membaca hingga kita memberanikan diri membaca buku-buku itu sendiri”. (Penulis)

Minggu lalu hingga sekarangpun penulis masih disibukkan dengan pembuatan Laporan Akhir, sehingga pada kesempatan kali ini penulis akan memaparkan artikel yang sudah sedari menulis buku Leader University saat menuliskan artikel ini. Semoga pembaca dapat membaca artikel dibawah ini dengan seksama, sehingga jika selanjutnya pembaca jadi ‘doyan’ dan ‘gila’ membaca seperti penulis maka jangan salahkan penulis. Hihi..

MEMBACA APAPUN PASTI ADA MANFAATNYA

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.”  (QS. Al Alaq: 1-4)

“Pertama adalah ilmu lalu iman, ilmu menghasilkan iman, iman menghasilkan kekhusyukan. Inilah yang menggerakkan hati untuk beramal.” (Dr. Yusuf Qardhawi)
Pada pembahasan ini penulis akan menjelaskan bagaimana aktifitas membaca turut memberi ‘Andil Terbesar’ dalam mengambil perannya di kehidupan kita yang ingin sungguh-sungguh mengembangkan diri di dunia persilatan yang semakin hari semakin sengit. Bahkan pernyataan penulis tersebut di-Aminkan oleh firman Tuhan yaitu kata pertama dalam ayat pertama di dalam surat pertama pula yang diturunkan oleh Allah swt kepada Muhammad saw yang berbunyi “Bacalah!”.

MAU BELAJAR DARI SIAPAPUN

Ini ada sedikit ‘intermezzo’ bahan pembelajaran yang bisa kita contoh dari makhluk-makhluk di ‘dunia lain’ supaya kita bisa banyak-banyak belajar dan belajar banyak-banyak. 
  • Belajarlah dari kuntilanak, sesulit apapun kehidupannya tetapi selalu tertawa.
  • Belajarlah dari tuyul, masih kecil tapi sudah bisa cari nafkah hidupnya sendiri.
  • Belajarlah dari pocong, dari dulu pakaiannya hanya itu saja, senantiasa untuk hidup sederhana.
  • Belajarlah dari babi ngepet, kalau malam hanya menyalakan lilin, senantiasa untuk hidup hemat listrik
  • Belajarlah dari nyi Roro Kidul, meskipun cantik dan tinggal di laut, tidak pernah pakai bikini, tidak vulgar.
  • Belajarlah dari jailangkung, tidak minta diantar dan dijemput, tidak suka jika dirinya sampai merepotkan orang lain.


Hehe... Diatas itu hanya untuk ‘Intermezzo’ saja, maka dari itu alangkah baiknya didalam membaca bab ini jangan sampai Anda terlalu tegang, tetapi santai rileks saja. Hal itu akan lebih membuat pembahasan yang penulis paparkan dalam bab ini lebih dapat kita cerna lebih baik dan ingatannyapun lebih tahan lama didalam long memory kita (baca: Ingatan jangka panjang).

MANFAAT MEMBACA

Karena kebanyakan orang harus di-iming-imingkan sesuatu yang akan dia dapatkan dari suatu pekerjaan, maka sebelum penulis membahas lebih panjang lebar mengenai kesadaran pentingnya membaca, penulis suguhkan terlebih dahulu manfaat dari pentingnya membaca yang disarikan dari buku La Tahzan karya Dr Aidh al-Qarni, antara lain: 
  1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan
  2. Membuat kita tidak terjerumus dalam kebodohan
  3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja
  4. Membuat kita bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam betutur kata
  5. Membantu mengembangkan pemikian dan menjernihkan cara berpikir
  6. Meningkatkan pengetahuan, memori dan pemahaman kita.
  7. Kita dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain
  8. Membuat kita dapat mengembangkan kemampuan untuk mempelajari bebagai disiplin ilmu dan aplikasinya didalam hidup
  9. Keyakinan kita akan bertambah ketika membaca buku-buku yang bermanfaat, terutama buku-buku yang ditulis oleh penulis-penulis Muslim yang saleh. Buku itu adalah penyampaian ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntut seseorang menuju kebaikan dan menjauhkannya dari kejahatan.
  10. Membaca dapat membantu menyegarkan pikiran dari keruwetan dan menyelamatkan waktu agar tidak sia-sia.
  11. Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat. Lebih lanjut lagi, bisa meningkatkan kemampuan untk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).


SERING-SERINGLAH MEMBACA BUKU

Setelah Anda mengetahui manfaat membaca yang telah penulis sampaikan dipembahasan sebelumnya maka penulis akan memulai membahas secara lebih detailnyanya. Ada fakta menarik yang banyak orang belum mengerti mengenai manfaat mambaca buku ini. Mau tau? Silahkan baca dulu hasil pengamatan penulis dibawah ini.

Ini adalah buah hasil pemikiran penulis yang berpikir kritis dengan membandingkan berbagai rutinitas mahasiswa lain yang dalam hal ini adalah mereka yang sering datang ke gym untuk fitness. Jika kita fitness, entah itu adalah lari seperti push up, sit up atau angkat beban yang jelas hal tersebut adalah suatu rutinitas yang tidak bosan-bosannya mereka lakukan. Lalu apa yang sekiranya mereka harapkan? Tentu otot yang terus membesar, yang dapat membuat badan teman penulis semakin berisi dengan gundukan-gundukan otot di seluruh tubuh mereka dan mungkin saja didalam pemikiran mereka bahwa dengan hal seperti itulah dapat membuat mereka berharap bahwa orang disekitarnya akan terkagum-kagum ketika melihat penampilan fisiknya. 

Jadi jika hal tersebut dianalogikan layaknya membaca sebuah buku maka akan seperti dibawah ini:
  • Latihan angkat barbel tadi diibaratkan seperti kita membaca buku 
  • Latihan yang rutin/intensif tersebut sama halnya dengan keintensifan kita dalam menjalani rutinitas diri kita sendiri dalam membaca buku
  • Lalu hasil otot yang kita dapatkan setelah rutin mengolah tubuh sama juga seperti kesebelas manfaat pembahasan penulis sebelumnya yang dapat kita ambil dari rutinitas membaca buku.


***

Tetapi penulis menyadari tentu tidak semua orang akan dengan senang hati menerima ajakan membaca ini dengan mudah, bahkan kebanyakan orang yang telah penulis berikan nasihat untuk memulai kebiasaan untuk membaca seperti inipun banyak yang berkilah bahwa membaca adalah hal yang membosankan dan lain sebagainya. Maka sebelum pembaca berpandangan sama seperti orang tersebut maka baca terlebih dahulu penjelasan penulis dibawah ini.

Jadi yang penulis sebut di awal pembahasan mengenai fakta yang belum orang banyak mengerti tadi dalam membaca buku adalah dengan membaca kita dapat ‘memperkerjakan otak secara maksimal’. Seperti halnya jika manusia melakukan aktivitas berbisnis yang berasumsikan jika semakin banyak aktifitas pekerjaan yang dikerjakannya maka semakin banyak juga laba yang didapat dari produk yang dijual melalui bisnisnya. Maka sama halnya juga dengan asumsi semakin banyaknya mempekerjakan otak secara maksimal maka otak tersebut juga akan mendapatkan produk yang berkualitas berupa kesebelas manfaat membaca tadi serta setelah itu adalah juga mendapatkan laba yang maksimal yaitu berupa kesuksesan dalam berkarir, salah satunya adalah menjadi unsur pimpinan disetiap pekerjaan yang kita bidangi. Adapun kaitan membaca dengan pemimpin adalah dikarenakan:

Pertama, pemimpin harus memiliki ingatan jangka panjang yaitu saat kita membaca maka otomatis kedua mata kita akan memberi rangsangan sensoriknya kepada otak, tepatnya ke otak sebelah kiri (tempatnya otak rasional/akademis yang hanya memuat memori jangka pendek (Short memory)), kemudian pada buku-buku tertentu (pengecualian terhadap buku mata kuliah yang sifatnya kebanyakan berbahasa kaku dan sukar dipahami otak kanan), dengan refleks pula otak kiri tadi akan memberi rangsangan kepada otak kanan untuk membuat visualnya menurut pemahaman kita sendiri yang diterima oleh mata Anda (berkesebalikannya dari otak kiri, otak kanan ini adalah otak tempat kreatifitas berasal dan otak dengan ingatan jangka panjang (Long Memory)). Dan hal seperti itulah yang selalu penulis terapkan disetiap kali penulis membaca buku, alhasil penulis mempunyai ingatan yang cukup kuat terhadap ilmu dan wawasan yang penulis dapatkan dari buku-buku yang telah penulis baca.

Kedua yaitu setiap seorang pemimpin haruslah generalis maka menurut penulis, pemimpin minimal harus memiliki 3 kapasitas didalam bidang keilmuan yang mampu saling melengkapi yaitu:
  1. llmu pengetahuan pada bidangnya
  2. Wawasan secara umum
  3. Pengalaman dari kenyataan hidup


Ketiganya bisa pemimpin dapatkan hanya dari membaca buku. Berikut penjelasannya:
  1. Membaca buku yang bersegmentasikan khusus pada bidang pekerjaan kepemimpinannya secara otomatis akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang tepat.
  2. Membaca buku tentang pengetahuan umum akan membuat mampu memahami hal lain, yaitu pengetahuan selain daripada bidang yang memang ditekuninya, yaitu mendapatkan wawasan yang luas.
  3. Seperti yang telah penulis jelaskan didalam buku penulis yang berjudul Leader University, bahwa pengalaman ada dua macam, yaitu pengalaman yang kita jalani sendiri dan pengalaman yang datangnya dari orang lain yang kemudian diceritakan kepada kita.


Jadi penulis akan mengasumsikan seperti ini: Biasanya seorang pakar menuliskan buku dari pengalaman seumur hidupnya pada saat dirinya berusia 40 tahun, maka jika kita bisa membaca buku tersebut maka kita otomatis menyerap usia 40 tahun dari dirinya yang disampaikannya didalam bukunya kedalam usia kedewasaan kita (yang dimaksud bukan umur biologis).

Maka, karena 3 hal tersebut diatas, membuat kita tidak heran lagi mengapa ada fenomena orang yang serba bisa dan serba tahu, sementara itu ada juga seorang yang serba tidak sanggup dan bodoh.

***

Kembali ke topik menyadari manfaat-manfaat dari membaca, sekarang Anda sudah mengetahui fakta sebenarnya mengenai keutamaan dari orang-orang yang rutin membaca buku. Penulispun tidak merasa gengsi manakala dicap sebagai ‘orang aneh’ diantara mahasiswa/i yang lain karena jika ada waktu luang penulis selalu mengeluarkan buku (buku tentang bidang apapun) sebagai sarana untuk mengisi waktu luang yang sayang jika disia-siakan.

Karena penulis tahu meskipun buku yang penulis baca tidak ada hubungannya dengan bidang yang penulis geluti atau buku yang penulis baca hanya sedikit yang dapat teringat di-memory penulis, tapi satu hal yang pasti dan yang tidak akan tersia-siakan yaitu dengan membaca buku yaitu penulis telah ‘Memperkerjakan otak’ supaya otak penulis terus terolah dan terbiasa untuk terus berpikir, bervisual dengan mengimajinatifkan melalui pembayangan dan mengasah dalam berkreatifitas yang akan menguntungkan diri kita sendiri. Dalam kapasitas membaca dan berpikir yang beratpun menurut beberapa pakar kesehatan, membaca mampu membuat sama bermanfaatnya yaitu seperti seseorang tersebut sedang melakukan olahraga, karena pada hakikatnya semua yang dirasakan oleh indera ini menghasilkan arus persepsi yang terpusat diotak (baca buku Harun Yahya, Fakta-Fakta yang Mengungkapkan Hakikat Kehidupan), maka jika otak sehat keseluruhan tubuhpun akan merespon hal yang sama.

Nah itu pembahasan mengenai kenapa kita harus membaca, sekarang penulis ajak Anda untuk mengetahui apa hubungannya sering-sering membaca buku dengan “kecepatan” yang diperlukan oleh seorang guna meningkatkan nalar otak.

KECEPATAN PENYELESAIAN PEKERJAAN SEBUAH NALAR OTAK

Kesempatan kali  ini penulis akan menjelaskan bagaimana peran sebuah nalar otak yang mampu menambah sebuah kecepatan didalam pelesaian pekerjaan-pekerjaan kita. Hal yang akan kita dapatkan dari kecepatan bernalar otak ini antara lain:
  1. Karena kita telah terbiasa dengan membaca buku maka dengan sendirinya kita telah terbiasa mambaca situasi dengan cepat. Sehingga jika ada masalah maka kita bisa memiliki respon berpikir ‘beberapa kali lipat lebih cepat membaca situasi’ bahwa itu adalah suatu permasalahan dibandingkan orang yang belum terbiasa membaca.
  2. Karena setelah terbiasa membaca buku, maka kita terbiasa pula untuk mengimajinasikan bacaan kita dari otak kiri (akademis) ke otak kanan (imajinasi), selanjutnya kita akan mendapatkan kesaktian pula dalam membaca situasi dan kondisi permasalahan tadi kedalam analisis bayangan kita sendiri, yaitu kita berusaha merekonstrukturisasi pada kejadian di dalam permasalahan yang kita hadapi. (Mencoba membayangkan kronologis serta setting tempat dan waktu dalam ruangan konteks pemikiran diri kita, sehingga kita akan merasa berada dalam keadaan psikologis yang sama dengan orang-orang yang terdapat di kronologis tersebut) 
  3. Karena setelah terbiasa mengimajinasikan bacaan buku, maka Anda akan memahaminya apa yang terdapat didalam buku itu, atau dalam istilah lain meresapi setiap alur pembahasan yang dituturkan dalam sebuah buku. Lalu dengan bermodalkan seringnya Anda memahami bacaan buku-buku itu jika Anda dihadapkan oleh suatu permasalahan riil, maka Anda akan mempunyai kecepatan dalam memahami sumber-sumber dari permasalahan itu. Sehingga lebih cepat juga Anda menjadi seorang ‘Problem Solver’ ketimbang seorang ‘A Part of Problem’.


Hingga saat penulis menuliskan bagian ini, penulis terinspirasi oleh sebuah modem yang tergeletak dimeja kerja penulis saat penulis tulisan ini. Sebuah modem yang kecepatan modem ini dapat penulis ibaratkan sebagai kecepatan sebuah nalar sebuah kerja otak. Maka penulis akan menamakan hal baru ini dengan judul “Kecepatan 7.2 Mbps Sebuah Nalar Otak”.

Jadi dapat penulis ibaratkan seperti ini, didalam modem biasanya hanya dapat berfungsi jika dimasukkan terlebih dahulu kartu sim card-nya sebagai motor pendorong modem tersebut agar bisa mengeluarkan fungsinya yaitu berinternet, serta dengan ketentuan setiap simcard dapat mengakses internet dibatasi oleh kuota-kuota seperti 500MB, adapula yang 1GB, 2GB dan lebih banyak lagi yang tentunya simcard itu harus secara rutin diisi oleh pulsa internet dari voucher yang harus diisi atau simcard tersebut tidak akan bisa melakukan browsing di internet dengan kecepatan maksimal 7.2 Mbps (kecepatan yang maksimal dari modem pabrikan akhir tahun 2011).

Kembali penulis akan bermain dengan pengibaratan:
  • Modem diibaratkan adalah diri kita
  • Simcard-nya adalah otak kita
  • Kecepatan berinternet 7.2 Mbps adalah kemampuan kita berpikir secara cepat (kecepatan nalar otak)
  • Kuota internet adalah batas waktu potensi kecepatan pemahaman otak Anda yang dapat kita usahakan
  • Voucher isi ulangnya adalah buku-buku yang tebal dan tipis yang kita baca.


Apakah sudah terbayangkan oleh pembaca keempat benda tersebut dipikiran pembaca? Jika belum, maka imajinasikanlah supaya akan terus terbayang oleh pembaca pengibaratan dengan benda-benda yang sehari-hari ada disekitar kita ini.

Apabila kita sudah mempunyai modal modem dan simcard (baca: tubuh dan otak kita) lalu kita menginginkan kedua benda itu bisa untuk melakukan tugas dan fungsinya dengan baik yaitu untuk mengakses internet dengan kecepatan maksimal 7.2 Mbps setiap saat (baca: kecepatan nalar otak), tentunya simcard tadi (baca: otak) harus di-isi-kan terlebih dahulu dengan isi ulang voucher pulsa (baca: buku) yang tergantung nominalnya vouchernya, semisal voucer 50 ribu biasanya hanya untuk kuota 1 GB (baca: buku tipis), jika 100 ribu tentu akan mendapat kuota lebih besar yaitu dengan kuota 3GB (baca: buku tebal), maka semakin besar kuotanya, otomatis akan semakin lama kerja modem (baca:otak) yang bisa dipergunakan untuk berinternet dengan kecepatan tinggi 7.2Mbps (baca: kecepatan nalar otak maksimal).

Tetapi yang perlu mendapat perhatian khusus dari pembaca adalah ketika batas kuota internet telah habis, kecepatan akan berkurang drastis (baca: kemampuan nalar otak Anda menurun), disebabkan kuota yang tidak diperbaharui oleh voucher, baik yang 50 ribuan ataupun 100 ribuan meskipun masa aktif simcard-nya masih ada (baca: tidak pernah membaca buku lagi, buku tipis maupun buku tebal walaupun banyaknya waktu luang yang benar-benar potensial).

Lebih parahnya lagi dan perlu perhatian Anda lebih lanjut adalah jika simcard telah memasuki batas masa aktif (baca: otak benar-benar dalam keadaan kosong/tidak lagi memperkerjakan otak) maka perlu secepatnya kita membelikan voucher isi ulang pulsanya (baca: buku sebagai media memperkerjakan otak), atau bencananya simcard tadi akan digantikan simcard lain yang tidak bagus (baca: kemampuan kecepatan otak dalam bernalar, digantikan oleh kemalasan (yang jika sudah malas sekali maka akan susah kembali menjadi rajin) ataupun berganti dengan hanya otak penerima visual atau penulis sebut dengan tipe ‘nalar otak manja’)).

Pada saat penulis mengatakan hal terakhir diatas ada saja yang kemudian menegur keras pada penulis karena penulis menyebut otak yang hanya menerima informasi secara visual itu penulis sebut ‘otak manja’. (Contoh: Nonton film yang diangkat dari novel jika dibandingkan dengan membaca versi novelnya atau menonton motivasi dari seorang motivator di TV jika dibandingkan dengan membaca sendiri buku motivasinya). Tetapi sebelum Anda berpikir untuk menegur keras pada penulis juga, silahkan baca dulu penjelasan penulis dibawah ini.

RACUN VISUAL ASUPAN OTAK (*)

*) Dalam hal pembahasan ini penulis perumpamakan menoton visual dalam hal menonton film layar lebar dibandingkan dengan membaca novel aslinya.

Sebelumnya penulis minta maaf jika setelah membaca judul tulisan penulis ini ada yang tersinggung pada penulis, tapi dengan pembahasan dalam bab ini penulis ingin menyampaikan sebuah penyadaran bahwa dengan terlalu seringnya seseorang menonton visual (contohnya nonton film layar lebar yang diadopsi dari novel) seperti orang tersebut sedang ‘Di-suap-in’ kalimat demi kalimat di dalam novel itu lembut-lembut oleh sang Sutradara, sehingga otak penonton tadi akan menjadi sangat manja dibuatnya (alih-alih jadi sering mengeluh jika harus akan membaca buku). Jadi hanya mereka (baca: Sutradara dan para pemeran tokoh) yang jadi pintar (baca:mempunyai kemampuan penalaran otak yang baik) karena merekalah yang membaca naskah novelnya dan otomatis yang menjadi penontonnya (jika tidak dibarengi dengan membaca novelnya sebelumnya) hanya memiliki kemampuan penalaran otak yang hanya sedikit (baca: lemot). Pada kenyataan seperti inilah maka dari judul sub bab ini adalah “Racun Visual Asupan Otak”.

Sebagai tambahan wawasan untuk kita, bahwa jika kita menonton film maka kita hanya mampu mengilustasikan cerita dan penghayatan kondisi psikologis tokoh dan setting lokasi cerita berdasarkan penghayatan dari sang sutradara yang kemudian di tumpahkan kepada aktor dan aktris yang berperan didalam ceritanya, sehingga hanya 2 penalaran yang dapat kita terima, yaitu:
  1. Dari sang penulis novel yang hanya dihayati oleh sutradara
  2. Dari aktor dan aktris yang juga membaca novel, lalu menghayati secara berbeda pula dengan pemahaman sutradara


Jadi penalaran yang didapat penonton dari cerita yang ditulis penulis novel telah susut oleh ‘filterisasi’ 2 penalaran orang-orang tadi.

Sedangkan jika kita membaca novel itu langsung (tanpa menonton filmnya terlebih dahulu) maka otak kanan kita akan senantiasa mengilustrasikan kalimat demi kalimat didalam dalam penalaran kita sendiri. Kita memiliki kemerdekaan dalam menalarkan jalan ceritanya seperti apa, keadaan psikologi tokoh seperti apa (khusus untuk ini jika sering-sering kita bisa menebak dengan ilustrasi yang tepat keadaan psikologis tokoh-tokohnya maka kita akan mudah dalam memahami kondisi psikologis orang-orang disekitar kita, termasuk orang yang sedang berbicara dengan kita, setidaknya itu yang sering penulis lakukan sehingga kini penulis mendapatkan manfaatnya yaitu mudah untuk memahami kondisi-kondisi psikologis orang-orang disekitar penulis), serta setting penggambaran lokasi yang dijabarkan seperti apa. Hal yang tidak akan kita dapatkan jika kita ‘disuapin’ dengan cara menonton film (baca: menonton visual)

Maka dengan kita menalarkan sendiri bagaimana situasi-situasi yang digambarkan oleh penulis maka hal itu penulis namakan ‘kemerdekaan dalam berpikir’. Kemerdekaan dalam bernalar inilah yang membuat kita terus terbiasa dalam mengimajinasikan pemikiran-pemikiran kita sendiri (baca: kemerdekaan berpikir). Inilah yang nantinya akan menghasilkan orang-orang yang mampu mempunyai inovasi-inovasi yang segar dan berkualitas karena adanya kreatifitas pemikiran dari orang-orang yang telah terbiasa merdeka dalam berpikir.

Dalam pembahasan ini penulis hanya memakai perumpamaan menonton film jika dibandingkan dengan membaca novel, tentunya masih banyak lagi contohnya, antara lain:
  1. Intensitas menonton sinetron, telenovela, film korea dll dibandingkan dengan intensitas membaca buku, majalah atau tabloid.
  2. Sekedar mengikuti training/ seminar tanpa membaca buku yang dituliskan pengisi training/ seminar.
  3. Buku-buku cerita bergambar/komik dibandingkan buku-buku pengembangan diri/ pengetahuan umum.


Sekali lagi penulis disini hanya menyampaikan apa yang menurut penulis memang pantas untuk diketahui bersama sebagai bentuk penyadaran membentuk manusia-manusia berkualitas sebagai sosok pemimpin bagi dirinya sendiri, tanpa ada niatan untuk mendikomisasi pabrikan dunia visualisasi. Menonton visual masih tetap diperlukan sebagai wahana kita untuk menghilangkan kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari, tetapi marilah kita coba berpikir kembali untuk mengimbanginya dengan membaca buku.

Karena dari hasil yang penulis amati dari kebanyakan orang adalah jika sudah nyaman menonton visual maka seseorang akan malas jika dihadapkan untuk membaca buku, walaupun sering berbagai motivator dari berbagai kalangan menasehati kita untuk membaca sekalipun, jika dari kitanya sendiri memasang ‘bentuk-bentuk resistensi’. Maka tindakan tersebut adalah kesia-siaan belaka. Padahal manfaat dari membaca sungguh nyata dapat mengubah kehidupan siapapun yang membacanya, yaitu kesebelas manfaat yang telah penulis sampaikan diawal bab ini. 

Maka hal tersebut sejalan seperti ungkapan bijak yang sering kita dengar, bahwa “Membaca buku adalah jendela dunia”.

Masih berbicara tentang racun, selain yang telah penulis sampaikan diatas didalam tontonan visual yang terlalu sering, ternyata racunpun bisa saja terdapat didalam bacaan-bacaan yang ada didalam buku. Lebih jelasnya lanjutkan membaca hingga akhir.

Ibaratnya orang yang sedang makan nasi, maka yang ada didalam nasi yang terlihat putih muluspun tidak menjamin kumpulan nasi tersebut benar-benar 100% terdiri dari nasi itu sendiri, karena pasti ada ‘upo’ (baca: nasi yang masih berbentuk beras) atau batu-batu kecil yang ada menyertai didalam nasinya. Sehingga jika orang yang ingin makan nasi dan menginginkan nasi tersebut benar-benar bersih, maka pisahkan terlebih dahulu ‘upo’ dan batu kecil itu terlebih dahulu baru setelahnya bisa menyantapnya.

Demikian pula sebuah buku, didalam buku mungkin saja ada pembahasan-pembahasan yang menyimpang dari nilai dan etika kehidupan sesungguhnya, maka sebaiknya jika kita membaca buku baiknya setelah kita membaca satu pembahasan baiknya terlebih dahulu kita analisis apakah yang disampaikan penulis buku sesuai tidak dengan apa yang tercantum didalam nilai-nilai yang mulia. Atau jalan tengahnya dengan cara ‘Win-Win Solution’ adalah membaca terlebih dahulu buku yang ingin Anda baca, setelah itu analisislah dengan realisme fenomena kehidupan yang benar, jika cocok praktekkan secara kongkritnya, jika tidak cocok paling tidak Anda mengetahui bahwa ada ilmu atau wawasan seperti itu yang telah berkembang didalam masyarakat sehingga menambah wawasan mengenai hal-hal yang tidak seharusnya.

Begitu pula dalam hal ini penulis mawas diri saja, jika pembaca merasa bacaan penulis didalam buku ini tidaklah sesuai dengan apa yang menjadi keyakinan kehidupan Anda yang terdalam (unsur kehakikian diri Anda), maka itu hak Anda sendiri yang bisa menilainya seperti apa yang Anda inginkan. Setidaknya inilah ilmu yang penulis dapatkan dari berbagai pengalaman yang serba positif yang penulis alami dan orang lain yang disampaikan kepada penulis. Dan yang terpenting adalah hal inilah yang membuat penulis memutuskan untuk membagikan pengalaman ini menjadi rumusan perubahan, insya Allah, dalam kehidupan penulis menuju kesuksesan dunia dan akhirat.

LALU APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

Seperti disemua buku yang penulis tulis, penulis pasti akan meminta pembaca secara langsung untuk melakukan prakteknya karena konsep buku ini buku pengembangan diri, jadi wajar jika penulis menekankan poin-poin tertentu untuk pembaca lakukan.

Penekanan penulis untuk menambah kecepatan Anda dalam bernalar otak ini antara lain:
  1. Baca buku, buku tentang apapun, disaat kapanpun, ditempat manapun bahkan dengan kondisi apapun. Jika Anda punya waktu kosong akan mubazir (baca: sia-sia) jika tidak dimanfaatkan untuk kegiatan positif ini.  Bahkan jika Anda orang sibuk sekalipun ambillah waktu luang berapa menitpun disela-sela padatnya aktivitas Anda untuk membaca buku.
  2. Ada teknik membaca buku supaya lebih efektif masuk kedalam ingatan Anda, yaitu dengan membaca per bab atau perbagian-bagian didalam buku itu, atau bisa juga baca satu buku hanya 10 menit tiap hari. Tujuannya tidak lain adalah supaya Anda bisa menghafal apa yang disampaikan dalam buku itu satu persatu. Jeleknya adalah kebanyakan orang membaca sekali habis, sehingga kebanyakan dari mereka yang membaca dengan cara demikian maka jika diminta menjelaskan kembali inti dari keseluruhan buku yang dibacanya, dengan sendirinya mereka hanya bisa menerangkan bagian terakhir dari bacaan tersebut, karena ya memang tulisan-tulisan ditengah bahkan diawal telah terlupakan karena terlalu banyak muatan yang harus diingat otak. Tapi teknik baca perbab atau per 10 menit ini jangan hanya dipergunakan untuk membaca satu buku saja, disekaliankan saja 3-4 buku agar walaupun 10 menit jika 4 buku yang dibaca sama saja dengan Anda membaca buku 40 menit kan? 
  3. Ada teknik membaca buku supaya Anda tidak merasa kebosanan yaitu jangan membaca buku yang sama jenisnya seharian penuh bahkan hal tersebut dilakukan pula selama berhari-hari. Penulis jamin Anda akan merasa bosan jika demikian. Maka saran penulis adalah bacalah buku yang berbeda jenisnya (baca: kontennya) setiap persatu harinya. Jika Anda membaca buku pertama mengenai ekonomi dan bisnis maka usahakan buku kedua yang berbeda dari itu, bisa biografi tokoh besar, atau buku-buku motivasi.
  4. Baca Buku secara bertahap level kesukarannya, tentu saja dimulai dari kumpulan cerita-cerita pendek putus yang mudah diserap, semisal seperti Chicken Soup. Setelah itu selalu peningkatan materi-materi yang lebih berbobot pembahasannya dan lebih dari itu buku-buku yang lebih berat lagi, seperti buku buku yang spesifik pada pekerjaan kita, seperti Manajemen, Kepemimpinan, Ekonomi dan Bisnis dan lain-lain.
  5. Tips belajar efektif:

a. Suasana Hati
Ciptakan Mood yang positif, mulai dari setting waktu, tempat, sikap belajar yang idealnya sesuai dengan pribadimu sendiri.

b. Pemahaman
Fokus pada permasalahan hingga Anda bisa memahami apa yang benar-benar ingin Anda pelajari

c. Ulang
Setelah mempelajari satu topik permasalahan, berhentilah dan ulangi terlebih dahulu dengan memakai pemahaman oleh penggambaran nalar otakmu sendiri

d. Telaah
Lihat informasi lebih jauh dan pelajari hingga sedetail mungkin yang bisa Anda teliti untuk mendalami permasalahan keilmuan tingkat tinggi.

e. Kembangkan
Dengan racikan kreatifitas Anda sendiri, ilmu pengetahuan yang telah Anda pelajari sekiranya ada yang bisa dikembangkan, maka kembangkanlah dengan ide yang bersifat inovasi terbaharukan.

Lakukan hal-hal tersebut maka penulis yakin membaca bukan lagi sesuatu yang membosankan tetapi malah justru menyenangkan. Bagaimana tidak? Setidaknya dengan rajin membaca maka Aura Anda akan berbeda dengan aura orang yang jarang membaca, akan lebih berkharisma.

***KAMU TENTU PUNYA CATATAN SENDIRI***

Potensi Dari Kepemimpinan Diri Sendiri (Catatan 6, 10 Minggu Sebelum Pengukuhan)

Senin, 10 Juni 2013. (10 Minggu Sebelum Pengukuhan)

POTENSI DARI KEPEMIMPINAN DIRI SENDIRI

Buku Catatan Akhir Kuliah: Praja Penulis Buku karya M. Arafat Imam G Dapatkan di Google Play Store

“Seorang penyendiri memang dapat diibaratkan seekor domba yang siap disergap oleh kawanan Serigala. Namun jika orang tersebut lebih pantas diibaratkan seperti Singa ketimbang Domba maka kawanan serigala tidak akan ada yang berani menyergap Singa. Sungguh yang diperlukan seseorang adalah menjadi Singa bukan Domba kendati selalu bergerumul dikawanan domba sekalipun”. (Penulis)

Pada sekitaran tanggal ini penulis sedang benar-benar disibukkan dengan penyusunan Laporan Akhir penulis sebagai persyaratan kelulusan dari Kampus IPDN dengan gelar Sarjana Sain Terapan Pemerintahan (S.STP) sehingga penulis pada kesempatan kali ini hanya bisa menampilkan artikel yang sebelum menulis buku inipun sudah ada. Artikel ini sebenarnya sudah pernah saya publikasikan pada buku Leader University sebagai bonus tambahannya, tetapi hanya pada buku yang masih menggunakan cover limited edition dan tidak lagi pada saat buku tersebut versi cetakan kedua yang menggunakan cover berlatar warna merah tua.

Penulis kira artikel tersebut lebih cocok disampaikan didalam kapasitas buku ini karena konteks buku ini adalah buku gado-gado dan memuat artikel yang bersifat lebih kepada hal memotivasi kepada para mahasiswa. Berikut adalah artikelnya, selamat membaca. Penulis nulis laporan Akhir dulu ya. :)

SEMUA ORANG ADALAH PEMIMPIN

Inilah perkataan Tuhan:
Dan tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Aku hendak jadikan khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al Baqarah: 30)
Nb: Khalifah=Pemimpin

Dan, inilah perkataan Nabi Muhammad SAW, sebagai utusan Allah Swt:
“Sesungguhnya setiap dari kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atasnya” (H.R. Bukhari dan Muslim)

PROLOG

Dahulu latar belakang penulis tidak luput dari masa-masa remaja yang bandel dan terlalu suka menghambur-hamburkan waktu yang penulis miliki dengan bermain-main sesuka penulis ketimbang menyadari bahwa penulis juga adalah seorang manusia yang memang sengaja diciptakan Tuhan untuk ada dari ketidak-adaan dan lahir didunia ini untuk nantinya kembali ke-sisi-Nya dan mempertanggung-jawabkan setiap perbuatan yang setiap manusia (termasuk penulis lakukan didunia ini). Setidaknya hal ini baru penulis sadari ketika penulis masuk dan menjadi seorang aktivis Kerohanian Islam di Kampus IPDN, yang mana kisah sebelum menjadi aktivis kerohanian tersebut penulis tidak jauh dari anak remaja yang bandel pada umumnya.

Lalu tidak sampai hanya menyadari hakikat hidup manusia, namun penulispun iseng-iseng saat itu mulai membaca buku ESQ karya Ary Ginanjar Agustian yang mana hal tersebut merupakan awal dari penulis mulai menyukai hobi baru, yaitu membaca buku. Jika sebelumnya penulis terlalu sering bermain Playstation dan Game Online pada saat penulis masih dibangku SMA dulu (saat itu memang sedang maraknya permainan tersebut dimainkan oleh para pelajar SMP/SMA) tetapi setelah keputusan untuk iseng-iseng membaca buku yang untuk pertama kalinya langsung buku ESQ itulah yang membuat penulis benar-benar langsung menggandrungi dunia khazanah keilmuan dan perbukuan seperti ini. Sehingga tanpa penulis sadari ternyata memang banyak manfaat dari dunia khazanah keilmuan dalam usaha menggali potensi-potensi diri kita, baik dalam kapasitasnya untuk meraih kesuksesan maupun dalam meraih kebahagiaan.

Saat itu pula penulis menyadari dan menjadi sangat tersentuh ketika membaca kedua kutipan dari Al-Quran dan Hadist Rasul Saw yang penulis paparkan diatas tadi. Bahwa ternyata semua orang terlahir sebagai seorang pemimpin terlepas dari siapa dan apapun latar belakang keluarga dan pendidikannya, adapun pemimpin yang dimaksud minimal adalah bagi dirinya sendiri.

Maka penulis akan coba untuk bermain dengan pengibaratan yaitu bagaimana cara penulis mengilustrasikan kepemimpinan yang penulis maksud dengan memimpin terhadap diri kita masing-masing dan bentuk pertanggung-jawabannya setelahnya, yaitu seperti yang penulis ilustrasikan sendiri pada diri penulis sendiri yang penjelasannya adalah seperti berikut ini:
  • Pertama, tubuh penulis adalah sebuah robot bentuk dan rupanya sama persis dengan manusia
  • Sedangkan kedua, penulis hanya sebagai bagian dari otak dan jiwa yang mengisi tubuh robot ini
  • Dan ketiga, seluruh tubuh robot ini adalah para pengikut/karyawan yang setia pada penulis
  • Penulis sebagai otak memerintahkan segala anggota tubuh robot ini untuk bergerak, jalan dan lain-lain
  • Penulis sebagai jiwa yang memiliki perasaan bagaimana harus mengambil tindakan yang harus penulis ambil dengan pertimbangan-pertimbangan berbagai resiko yang akan penulis ambil nantinya untuk dilakukan oleh anggota penulis (anggota diseluruh tubuh penulis)
  • Jika penulis kelak tidak berfungsi lagi (baca: meninggal) kelak penulis akan menemui sang teknisi pencipta tubuh penulis, kemudian sang teknisi pasti akan melihat apa saja yang penulis lakukan selama penulis aktif (baca: hidup) dahulu.
  • Jika selama hidup penulis berperilaku baik maka penulis akan diberikan peng-aktifan kembali (baca: hidup kembali disurga)
  • Namun jika dinilai perilaku penulis buruk maka penulis tidak diacuhkan kembali dan lebih dari itu penulis pasti akan dibuang ketempat sampah bersama rongsokan yang lain (baca: kehidupan yang tidak terasa kembali dan ditempatkan di neraka).

Lalu penulis barulah benar-benar menyadari bahwa penulis sebenarnya adalah seorang pemimpin, yaitu pemimpin terhadap seluruh anggota tubuh penulis sendiri, sehingga penulis nantinya akan bertanggung jawab terhadap Sang Maha Pencipta. Maka hal tersebut akan sesuai dengan yang dinyatakan didalam ayat Al-Quran dan Hadist diawal bab ini bukan?

Tetapi penulis menyadari bahwa adanya kesadaran yang membuat penulis akhirnya memahami hal tersebut ternyata memerlukan pihak-pihak lain yang turut membantu penulis dalam menyadarkan penulis sendiri dari sebelumnya adalah seorang anak yang bandel menuju seseorang yang lebih (insya Allah) beretika. Maka penulispun kali ini menjadi terinspirasi bagaimana supaya penulis mampu turut menjadi pihak yang dapat menyadarkan para pembaca bahwa seluruh orang saat menjalani kehidupan dunia ini sesungguhnya adalah seorang pemimpin sejati (baca: Pemimpin), minimal terhadap dirinya sendiri.

Sama seperti ketika penulis belum menyadari bahwa sesungguhnya penulis adalah seorang pemimpin terhadap diri penulis sendiri, maka ada beberapa belenggu yang saat itu menghalangi penulis untuk menemukan sebuah pencarian makna pemimpin bagi penulis itu sendiri. Belenggu itu juga yang bisa menghalangi semua orang yang juga berusaha mencari makna kepemimpinan diatas kehidupannya yaitu dari kesadaran mereka terhadap jalur kepemimpinannya kelak, maka penulis membagi belenggu itu menjadi 3 poin utama dan 4 poin tambahan serta penulis akan menjelaskan belenggu-belenggu tersebut kepada pembaca secara lebih mendetail.

BELENGGU KEPEMIMPINAN DIRI SENDIRI

Belenggu atau bisa juga kita sebut dengan Mental Block yang keberadaannya sering kita tidak sadari tapi selalu mampu membatasi diri kita untuk memulai sesuatu perbuatan, berikut ada beberapa belenggu kenapa sampai saat ini masih banyak orang tidak kunjung menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri sehingga sesekali perlu mengalami pengembangan dirinya kearah yang lebih baik.

Berikut adalah poin utama yang merupakan belenggu yang penulis maksudkan:
  1. Menunggu mukjizat datang terlebih dahulu baru menyadari dan kemudian ingin menjadi seorang pemimpin.
  2. Menunggu motivasi yang kuat datang terlebih dahulu baru menyadari dan kemudian ingin menjadi seorang pemimpin.
  3. Menunggu momen tertentu datang terlebih dahulu baru menyadari dan kemudian ingin menjadi seorang pemimpin.


Adapun poin tambahan pada belenggu menunggu momen itu kembali penulis bagi menjadi 4, yaitu:
  1. Menunggu kaya terlebih dahulu
  2. Menunggu selesai gelar sarjana tertinggi terlebih dahulu
  3. Menunggu berumur lanjut terlebih dahulu
  4. Menunggu saingan Anda jatuh terlebih dahulu


Dibawah ini adalah penjelasan dan solusi dari belenggu-belenggu tadi:
1.Menunggu Mukjizat Datang Terlebih Dahulu Baru Menyadari dan Kemudian Ingin Menjadi Seorang Pemimpin

Mukjizat seperti apakah yang ingin didapatkan terlebih dahulu, baru orang-orang mampu menyadari bahwa setiap manusia diciptakan kedunia ini untuk menjadi seorang pemimpin? Apakah mukjizat yang kita bayangkan seperti memiliki tongkat Nabi Musa (Moses)? Penyembuhan orang mati menjadi hidup kembali kah seperti Nabi Isa? Ataukah tidak terbakar api seperti Nabi Ibrahim (Abraham)?

Orang pada umumnya selalu berpikir seperti ini, “Andai saja saya memiliki kemampuan yang lebih daripada orang pada umumnya niscaya sekarang juga saya mungkin sudah menjadi seorang Pemimpin Dunia yang tangguh”.

Tapi sejenak pikirkanlah bahkan Nabi Muhammad saja yang kepemimpinannya tidak kita ragukan sekalipun, tidak mempunyai mukjizat kepemimpinan sama sekali (mukjizatnya hanyalah firman Al-Quran serta bagaimana cara membacanya dan Rasul saw selalu mampu berinteraksi dengan Allah swt yang ditandai adanya wahyu-Nya disetiap perkataan Rasul) sedangkan tentang bagaimana beliau dapat memimpin seperti itu adalah hasil dari usaha kerja kerasnya dimulai dari keadaan paling hina sekalipun pada masanya (yaitu Rasul saw dihina dan dilempari batu ketika pertama kalinya berdakwah di kawasan Makkah).

Adapun mengenai datangnya mukjizat pada kenyataannya adalah Tuhan Maha Pengasih, Tuhan itu selalu memberikan kebutuhan-kebutuhan yang terbaik untuk kita dapati. Hanya saja kita yang sebagai manusialah yang sering tidak mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan Tuhan kepada kita, jadi kita sering tidak mengetahui bahwa Tuhan sebenarnya telah menurunkan mukjizat berupa pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kita tersebut.

Nah maka tidak salah jika sebuah mukjizat itu setidaknya dibagi menjadi dua menurut kapasitasnya, yaitu Mukjizat Besar dan Mukjizat Kecil. Contoh dari mukjizat besar itu sendiri sudah penulis jelaskan diawal pembahasan ini tadi, yaitu seperti tongkat Nabi Musa as dan Nabi-Nabi yang lain, sekarang apa yang dimaksud dengan mukjizat kecil?

Jika pembaca saat membaca buku ini masih bernafaspun itu artinya pembaca masih diberi mukjizat kecil oleh Tuhan. Secara teorinya, mukjizat kecil ini adalah segala hal yang diberikan oleh Tuhan yang menunjang kehidupan kita sehari-hari. Hanya saja pada prakteknyalah yang sering dilupakan keberadaannya, lebih dari itu karena kita selalu melupakan keberadaannya maka hal itu pulalah yang membuat kita selalu lupa tidak mensyukurinya pula.

Padahal jika mukjizat yang kecil tadi sering-sering disyukuri keberadaannya, percaya tidak percaya mukjizat kecil itulah yang akan membuat diri kita mendapatkan mukjizat yang lebih besar, yaitu seperti kesuksesan dan kebahagiaan didunia dan diakhirat. Setidaknya pelajaran itulah yang diajarkan diberbagai ajaran agama secara universal.

Anda pasti mengenal cerita salah satu motivasi self-help klasik mansyur yang menceritakan seorang ahli agama yang ditimpa musibah banjir didesanya tetapi dirinya hanya terus-menerus berdoa kepada Tuhan agar dirinya selamat dari banjir tersebut. Lebih parahnya lagi, tidak ada usaha dirinya untuk menyelamatkan dirinya walaupun datang tim evakuasi dengan perahu karet dan helikopter sekalipun, sampai akhirnya dirinya tewas karena banjir tersebut yang pada akhirnya menengelamkannya.

Pada akhir kisah, di akhirat ahli agama itu protes kepada Tuhan melalui malaikat-Nya, yakni kenapa walaupun sudah berdoa dirinya tidak di tolong oleh Tuhan sampai akhirnya dirinya meninggal. Lantas malaikatpun menjawab bahwa sebenarnya ahli agama itu sudah ditolong Tuhan dengan didatangkannya kepadanya tim evakuasi pada hari pertama menggunakan perahu karet dan hari kedua menggunakan helikopter, tapi dirinya tetap bersikeras tidak mau diselamatkan oleh mereka.

Maka penulis dapat katakan dengan lantang bahwa mukjizat besar itu tidak akan datang kepada kita tanpa adanya rasa syukur pada mukjizat-mukjizat kecil yang telah diberikan kepada kita dikehidupan sehari-hari kita ini. Bahkan ketika pembaca masih bisa membalikkan lembaran kertas pada buku ini, maka itulah salah satu mukjizat yang harus kita syukuri terlebih dahulu untuk meraih mukjizat besar yaitu seperti halnya kita menjadi seorang pemimpin itu sendiri.

“KATAKAN “NOTHING!” PADA BELENGGU MENUNGGU MUKJIZAT”

2. Menunggu Motivasi yang Kuat Datang Terlebih Dahulu Baru Menyadarinya dan Kemudian Ingin Menjadi Seorang Pemimpin

Padahal tahukan Anda 5 motivator di Indonesia terhebat saat ini? Akan penulis sebutkan urut dengan hitungan mundur (Count down) dari posisi 5 sampai dengan posisi pertama:

5. Merry Riana
4. Bong Chandra
3. Andrie Wongso
2. Mario Teguh

Dan tentunya, diposisi pertama adalah:
1. Diri Anda Sendiri

Keterangan: No.2 s.d 5 adalah peringkat motivator versi penulis

Inilah alasan penulis menyebutkan ‘Diri Anda sendirilah’ yang tepat menyandang predikat sebagai motivator terhebat no. 1 di Indonesia yang sesungguhnya:
  1. Tidak ada yang dapat mengubah hidup kita selain diri kita sendiri, walaupun motivator nomor wahid di dunia ini berceramah kepada Anda, tetapi jika dalam diri kita sendiri tidak mau berubah maka akan terasa percuma diceramahi oleh motivator kelas dunia sekalipun.
  2. Motivator dari nomor 5 sampai dengan 2 hanyalah pemacu semangat kita yang sifatnya relatif. Karena walaupun dengan mengikuti seminar mereka dengan membayar jutaan rupiah sekalipun, tapi apabila dalam diri Anda sendiri belum ada niat untuk berubah maka sama saja dengan ‘Nol Besar’. Sehingga penulis sebut motivator peringkat 5 sampai dengan 2 adalah ‘Motivator Eksternal’ semata.

Maka penekanan penulis untuk pembaca yang merupakan motivator terbaik nomor 1 bagi diri sendiri adalah demi kebaikan kualitas kepemimpinan diri sendiri serta dalam mencapainya tidak adanya kata terlambat sedikitpun untuk memulai berubah sesuai dengan tahapan perkembangan usia kehidupan seseorang.

Tidak perlu Anda menunggu orang lain memotivasi kita setinggi langit terlebih dahulu, karena sumber motivasi tertinggi kita tentu bukanlah demi orang lain, melainkan ‘motivasi tertinggi kita adalah mencapai hakikat kehidupan’ dengan mencintai Tuhan yang menciptakan kita, serta mencintai utusan pembawa ajaran agama yaitu Nabi-Nya pula.

“KATAKAN “NOTHING!” PADA BELENGGU MENUNGGU MOTIVASI”

3.Menunggu Momen Tertentu Datang Terlebih Dahulu Baru Menyadari dan Kemudian Ingin Menjadi Seorang Pemimpin

Momen-momen yang dimaksudkan itu adalah sebagai berikut:
  • Menunggu kaya terlebih dahulu
  • Menunggu selesai gelar sarjana tertinggi terlebih dahulu
  • Menunggu berumur lanjut terlebih dahulu
  • Menunggu saingan Anda jatuh terlebih dahulu

Penulis kira setelah pembaca telah selesai membaca belenggu mengenai Mukjizat dan Motivasi diatas penulis tidak perlu berpanjang lebar menjelaskan mengenai belenggu menunggu momen seperti ini:

a. Menunggu Momen Sampai Kaya
Secara singkatnya menjadi pemimpin hakikatnya adalah menjadi sumber kebaikan untuk orang-orang disekitar kita, seperti contohnya kita tidak butuh menjadi kaya terlebih dahulu baru memberikan sumbangan kepada orang yang membutuhkan, jika kita orang yang kekurangan (secara finansial) sekalipun kita bisa menyumbangkan tenaga kita untuk membantu kerja orang lain yang sedang kesusahan. Jadi konteks pemimpin sebagai sumber kebaikan adalah universal dan luas pengertiannya. 

Karena banyak dari kisah orang sukses di Indonesia (dan banyak juga dalam skala Dunia) yang memulai kesuksesan karirnya dari keadaan tingkat ekonomi yang sangat rendah (baca: miskin), lalu sedikit demi sedikit beranjak menjadi seseorang yang berada pada tingkatan yang lebih tinggi. Jadi bukan seperti anggapan para pebisnis ortodoks yang menganggap harus memiliki modal usaha yang besar terlebih dahulu baru mau memulai bisnisnya, sedang bisnis-bisnis dalam skala kecil yang lebih berpotensial yang dapat dilakukannya dengan tahap demi tahap justru ditinggalkannya.

Adapun ibarat sebuah mukjizat, ada cara yang ternyata mampu membuat  seseorang menjadi mampu menjadi kaya tanpa disangka-sangka dari mana datangnya sumber kekayaan yang dihadiahkan oleh Tuhan tersebut yaitu bahwa jika kita memberi sumbangan kepada orang yang membutuhkan maka akan terjadi hubungan tarik menarik yang membuat kita akan mendapatkan balasannya yang justru lebih besar daripada yang kita berikan didalam sumbangan tersebut. Pembaca mau salah satu kunci sukses menjadi pemimpin? Maka coba bersedekah atau berbagi kebaikan berupa apapun kepada orang-orang disekitar kita tanpa harus menunggu kaya terlebih dahulu.

b. Menunggu Momen Sampai Bergelar Tinggi
Apa hubungannya gelar sarjana dengan menjadi seorang pemimpin? Gelar itu berarti dirinya adalah seorang yang berhasil sampai dengannya di wisudanya  pada program studi sarjana yang ditempuhnya, sedangkan menjadi pemimpin berarti dirinya adalah seorang yang mampu memimpin dengan segala kompetensinya. Maka siapa bilang orang yang ingin mampu sukses memimpin harus menunggu sampai benar-benar menjadi seseorang yang paling tinggi gelarnya diantara pada kandidat pemimpin yang lain?

Pemimpin membutuhkan teori terapan mengenai kepemimpinan dan manajemennya tetapi tidak perlu menunggu sampai terlampau pintar terlebih dahulu pada pembelajaran kedua teorinya, melainkan dengan begitu ada teori yang didapatkannya langsung saja praktekkan. Karena pada dasarnya kepemimpinan dan manajemen itu adalah prakteknya. Jadi kenapa kita harus tunggu menjadi terlampau pintar terlebih dahulu baru menjadi pemimpin? Toh belajar menjadi pemimpin secara otodidak, seperti setelah membaca teori langsung mempraktekkannya juga bisa.

MENUNGGU MOMEN SAMPAI BERUMUR LANJUT

Karena tua itu pasti sedangkan dewasa itu relatif, maka kita tidak perlu menunggu tua terlebih dahulu baru menjadi pemimpin karena yang dibutuhkan seorang pemimpin adalah kedewasaannya bukan usia tuanya. Maka untuk menjadi pemimpin diusia muda cukup belajar menjadi dewasa ‘yang kadarnya dipercepat’ sedari semenjak usia remajanya. Kita sebenarnya cocok saja untuk menjadi pemimpin pada lingkup luasan tertentu direntang waktu usia sekitar 25 sampai dengan 40 tahun, asal kita memiliki saya syarat yang keberadaannya sangat penting yaitu memiliki kedewasaan.

Adapun yang penulis maksud dengan belajar pendewasaan diri dengan ‘kadar yang dipercepat’ dapat dilakukan seperti ketika para remaja yang lain sedang sibuk-sibuknya bermain dan bercanda-gurau tetapi kita justru menyibukkan diri dengan hal-hal yang lebih berguna dan bermanfaat. Akan terasa aneh memang, tetapi dizaman yang serba aneh inilah yang aneh-aneh yang biasanya semakin lebih sukses (penjelasan analogi berpikir mengenai ini dapat dilihat pembaca lihat pada buku Birokrat Berkarakter Sukses di Era Konseptual karya penulis).

Jadi sadarilah tidak perlu lagi kita takut jika akan memimpin dan menjadi pemimpin disaat usia yang relatif muda, toh banyak juga orang yang berusia tua tetapi tingkahnya saja tidak dewasa sama sekali. Maka latihlah kedewasaan tanpa harus menunggu faktor bertambahnya usia biologis.

MENUNGGU MOMEN SAMPAI SAINGAN JATUH

Membahas momen yang terakhir ini mudah saja, jangan pikirkan kehadiran kompetitor-kompetitor itu sebagai saingan kepemimpinan kita, melainkan coba pikirkan saja secara positive thinking bahwa kehadiran saingan seperti itu adalah salah satu faktor yang mampu menjadi pembangkit semangat kita untuk terus berkembang ke arah lebih baik lagi.

Tanpa adanya saingan maka siapa yang akan memotivasi kita untuk dapat terus maju dengan mengembangkan ide-ide pembaharuan? Karena kita sering menganggap saingan bisa dijadikan sebagai pihak yang harus dikalahkan maka kita akan memacu diri untuk terus mengembangkan diri supaya terus bisa selangkah lebih maju dari saingan tersebut. Tentu dalam kapasitas kita mengalahkan karena kita lebih menjadi maju dari pada pihak saingan, bukan melalui pertandingan saling sikut yang sifatnya tidak fair.

Coba bayangkan jika kita menunggu kapan saingan kita jatuh terlebih dahulu atau kita dengan cara curang menjatuhkan saingan kita tersebut, maka saingan tersebut akan berharap sama dengan demikian akan menunggu kita jatuh atau dengan cara curang pula menjatuhkan diri kita. Ya contoh kongkritnya bisa kita lihat didalam persaingan iklan antar perusahaan yang menghasilkan produk yang sejenis atau bisa pula kita lihat bagaimana kondisi perpolitikan yang ada di seluruh negara di dunia ini yang justru saling menjatuhkan antar satu partai politik terhadap partai lainnya sementara internal parpolnyapun sesungguhnya rapuh, maka bukankah lebih baik memperbaiki kualitas internal parpol sehingga kuat dan berkembang maju ketimbang melakukan aktivitas ‘politik saling sikut’.

“KATAKAN “NOTHING!” PADA BELENGGU MENUNGGU MOMEN”

4 MACAM SINTESIS BAGI PEMIMPIN ORGANISASIONAL

”Pemimpin  handal tidak dilahirkan dikelas, karena Great Leader not born but it’s created.” (Penulis)

Sekiranya kepemimpinan seseorang itu tidak dibentuk berdasarkan gen yang dibawa dari semasa lahir (dari faktor orang tuanya), tetapi kepemimpinan dibentuk dan dibentuk dengan hasil tempaan dan belajar yang terus menerus dalam mengembangkan dirinya masing-masing. Senada dengan perkataan Steve Hallam (seorang Insiyur berkebangsaan Inggris) yang mengemukakan pendapatnya bahwa “Pernyataan tentang kecerdasan manusia dari bawaan lahir itu sudah seperti angka mati dan tidak bisa diubah adalah tidak tepat, karena penemuan modern menunjuk pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya, 58% merupakan hasil dari proses belajar.”

Pada pembahasan kali ini penulis menjabarkan 4 macam sintesis bagi pemimpin. Namun tahukah apa itu sintesis yang penulis maksud?

Ide menggolongkan seorang pemimpin dengan istilah sintesis ini penulis terinspirasi seperti dalam buku 13 Wasiat Terlarang karya Ippho Santosa yang turut menggolongkan seseorang berdasarkan sintesisnya menjadi lima sintesis. Walaupun istilah sintesis ini biasanya dipergunakan oleh ilmuan sains yang akan menciptakan berbagai unsur menjadi satu padu. Tetapi akan lebih mudah penulis jelaskan jika sintesis tersebut penulis ibaratkan saja adalah sebuah kain.

Jika kita mencermati dan berusaha menguraikan sebuah kain maka kita akan melihat alur benangnya bukan? Nah benang-benang yang disusun sedemikian rupalah dengan alur satu sama lain yang mengkokohkan kain supaya jahitannya kuat dan kain tidak mudah tercerai berai menjadi berhelai-helai benang kembali.

Kalau dengan penjelasan yang bakunya oleh Wikipedia.org (2012), seperti ini “Sintesis (berasal dari bahasa Yunani syn = tambah dan thesis = posisi) yang biasanya berarti suatu integrasi dari dua atau lebih elemen yang ada yang menghasilkan suatu hasil baru. Istilah ini mempunyai arti luas dan dapat digunakan ke fisika, ideologi, dan fenomenologi”.

Gambar: Keterangan Simpul Empat Sintesis pada Pemimpin (Gambar tidak dilampirkan)

Secara spesifiknya berikut adalah penjelasan tiap sintesisnya:
1. Generalis (Pada Umumnya)
Seorang pemimpin secara umum bisa dikatakan sebagai seorang generalis, karena mereka mampu untuk mengembangkan kapasitas dirinya sendiri yang tidak menyekat dengan sekat-sekat yang membatasi diri seorang pemimpin dengan orang-orang disekitarnya.

Sehingga dari pemimpin seperti ini, akan didapatkan seseorang yang mampu berpikir dari segala sudut pandang orang kebanyakan yang mungkin saja dianggap prioritas dari setiap pandangan mereka. Serta diharapkan pemimpin seperti ini dapat berlaku adil dan bijaksana untuk menentukan kebijakan-kebijakan yang akan diambilnya.

Penulis contohkan seperti berikut ini, pemimpin harus mampu mendengarkan setiap usulan dari bawahan yang dipimpinnya sehingga akan selalu mampu menempatkan diri pada posisi yang memahami pemikiran yang dipimpinnya ketika sang pemimpin harus memutuskan kebijakan yang akan diambilnya.

Poin penting pada sintesis pertama ini antara lain:
  1. Pemimpin dalam makna umumnya
  2. Tidak mensekat-sekat dirinya
  3. Adil, bijaksana, panutan dan penuntun


2.Discover atau Inovator (Peneliti)
Pemimpin dengan sintesis seperti ini identik dengan dua hal, yaitu:
  1. Pertama, pemimpin seperti ini juga biasa diibaratkan sebagai seorang penemu hal-hal baru yang bersifat discovery (hal yang belum pernah ditemukan sama sekali oleh orang-orang sebelumnya)
  2. Kedua, pemimpin seperti ini biasanya handal dalam menyambungkan beberapa hal yang sebelumnya sama sekali tidak ada hubungannya. Pemimpin inipun bagai melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang sebelumnya. Sehingga tidak mengherankan dirinya selalu mendapatkan berbagai ide-ide yang tidak terpikiran oleh orang kebanyakan sebelumnya (Inovasi).


Penulis contohkan seperti berikut ini; Seorang pemimpin yang menggagas adanya unsur informasi dan teknologi agar tercipta e-Goverment untuk mendukung kepraktisan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan diinstansinya.

Poin penting pada sintesis kedua ini antara lain:
  1. Pemimpin yang merupakan seorang Penemu/Pembaharu hal-hal baru
  2. Menyambung yang sebelumnya tidak dapat hubungan sama sekali
  3. Mampu melihat potensi yang tidak dilihat kebanyakan orang


3.Problem Solver (Pemecah Masalah)
Pemimpin dengan sintesis seperti ini-pun identik dengan dua hal, yaitu:
Pertama, pemimpin dengan sintensis ini adalah pemimpin yang mampu mengatasi persoalan-persoalan yang terkadang tidak bisa diatasi dengan cara pada umumnya, sehingga sering seorang pemimpin dengan tipe sintesis Problem Solver ini dapat menyelesaikan hal-hal umum dengan ketidak teraturan yang terkadang selalu berbeda dengan cara berpikir orang lain yang digunakan kebanyakan orang (thinking outside of the box) namun pemikiran tersebut justru selalu tepat dalam menyelesaikannya.

Kedua, pemimpin dengan sintensis problem solver seperti ini juga adalah orang yang jeli mengurai pola-pola yang kompleks sehingga pemimpin mampu menguraikan permasalahan-permasalahan besar menjadi perihal kecil yang mudah dipahami oleh orang lain. Sehingga memungkinkan pula seorang pemimpin mampu mengkomunikasikan pemikiran besarnya yang dapat dijelaskan dengan bahasa yang dapat ditelan para bawahannya dan bawahannyapun bisa bekerja dengan pemikiran yang seirama dengan pemimpinnya.

Penulis contohkan seperti berikut ini; Pemimpin saat diterpa berbagai permasalahan (yang memang lumrah didapatkannya setiap harinya) akan terus mampu keluar dari permasalahan tersebut karena setiap kali dirinya mendapat satu permasalahan maka dirinya selalu berpikir pada kemungkinan adanya solusi yang bisa diambilnya. 

Poin penting pada sintesis ketiga ini antara lain:
  1. Seorang problem solver bukan a part of problem
  2. Penyelesai pada sebuah kasus ketidak teraturan
  3. Mengatasi persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan cara pada umumnya
  4. Mengurai pola berat (kompleks) menjadi pola ringan
  5. Segalanya menjadi terlihat simpel
  6. Mampu mengkomunikasikan secara efektif dan efisien kepada bawahannya 
  7. Pemahaman bersama, antara pemimpin dengan bawahan


4.Crosser (Penyebrang)
Mereka-mereka yang memiliki jabatan dalam posisi kepemimpinan pada satu bidang pekerjaan tetapi mereka menyebrang kearah yang bersebrangan dengan membawa tujuan-tujuan tertentu pada bidang yang ditekuninya tadi.

Sekilas mereka akan dikira oleh orang-orang disekitarnya telah meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai pemimpin pada pekerjaan dibidang sebelumnya. Tetapi merekalah yang akan membawa pengalaman-pengalaman baru yang diambilnya dari pekerjaannya diarah sebrang tersebut. Sehingga dari pengalaman yang didapatkan tersebut dibawa kembali untuk memperbaiki dan memperkuat keadaan lingkup pekerjaan yang merupakan tanggung-jawabnya.

Penulis contohkan seperti contoh kongkrit berikut ini; seorang Camat yang ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya yang banyak dari mereka adalah pengangguran, maka Camat tadi menyebrang kedunia bisnis dan menghimpun relasi-relasi dikalangan swasta yang sekiranya mampu menjadi investor bagi kawasannya kecamatannya, dengan memberikan iming-iming pada investor tersebut untuk dipermudah segala perizinannya asal mampu mendongkrak kegiatan usaha diwilayah kecamatannya.

Poin penting pada sintesis keempat ini antara lain:
  1. Memiliki jabatan di pekerjaan utama
  2. Menyebrang ke pekerjaan lain
  3. Menyebrang dengan alasan mencapai salah satu target dari jabatan di pekerjaan utamanya.


***

Nah, itulah keempat sintesis yang satu sama lainnya dalam posisi yang saling menguatkan. Sebenarnya tidak masalah jika seorang pemimpin hanya menguasai salah satu sintesisnya saja, tetapi kepemimpinan yang dijalankannya tentunya akan susah dalam adaptasi menembus perubahan zaman yang selalu berkembang dengan pesatnya. Serta kepemimpinan seperti itu juga akan lebih mudah rapuh dibandingkan jika keempat sintesisnya saling dimiliki dan dapat dipadukan secara tepat guna oleh pemimpin.

Penulis akan jabarkan bagaimana nasibnya jika sintesis yang dikuasai oleh pemimpin hanya satu pada masing-masingnya. Maka hal tersebut akan menjadi seperti dibawah ini:
1.Jika pemimpin yang hanya memiliki sintesis Generalis:
a.Pemimpin hanya pada umumnya, tidak berani menghadirkan pengalaman baru
b.Pemimpin menjalankan kepemimpinan secara monoton
c.Pemimpin tidak ada usaha apapun untuk mengembangkan apapun
d.Pemimpin kesusahan jika dihadapkan pada berbagai permasalahan

2.Jika pemimpin yang hanya memiliki sintesis Discover/ Inovator:
a.Kehadiran pemimpin hanya sebagai pemberi ide-ide cemelang yang inovatif, yang terpaksa ide tersebut harus diberikan kepada rekanan pemimpin lain karena dirinya merasa tidak mampu untuk mempraktekkannya.
b.Kurang peka terhadap permasalahan yang tiba-tiba ia dapatkannya.

3.Jika pemimpin yang hanya memiliki sintesis Problem Solver:
a.Kehadiran pemimpin hanya sebagai pemecah masalah, hari-harinya hanya digunakan untuk menyelesaikan msalah yang diperolehnya
b.Tidak ada usaha memperbarui ide/inovasi, sehingga penyelesaian masalah hanya dengan mengunakan cara yang sama setiap penyelesaiannya.

4.Jika pemimpin yang hanya memiliki sintesis Crosser:
a.Pemimpin hanya sebagai pencari pengalaman, saat menerapkan kembali di kepemimpinannya dia merasakan kebingungan
b.Pemimpin kesusahan jika dihadapkan pada berbagai permasalahan

Lain halnya jika pemimpin mampu menguasai keempatnya dan saling mensinergiskannya. Seperti pengibaratan benang, keempat sintesis tersebut disimpulkan dengan empat arah yang berbeda (seperti gambar sintesis dihalaman sebelumnya) lalu hasil simpulnya harus dikaitkan dengan simpul-simpul lain sehingga menghasilkan berbagai simpul empat sintesis yang saling berkaitan hingga nantinya dapat menjadi lembaran kain yang teksturnya tidak mudah rapuh dan tercerai-berai. Tujuan seperti itulah yang penulis harapkan setiap pemimpin organisasional dari hasil proses pembelajaran sintesis.

Terakhir pada pembahasan mengenai sintesis ini adalah proses pengabungan simpul sintesis menjadi kesatuan dengan simpul sintesis lain dapat digambarkan seperti pada gambar diberikut ini:

Gambar: Keterangan Sintesis Pemimpin yang Digabungkan dengan Sintesis Orang Lain Sehingga Saling Menguatkan (Gambar tidak dilampirkan)

“Kekuasaan dapat merealisir berbagai manfaat, juga menghanyutkan pemegangnya ke lautan laknat. Tetapi, membenci kekuasaan mengantar umat pada kehinaan dan akhirnya dikuasai musuhnya. “Sesungguhnya Allah mencegah sesuatu dengan kekuasaan, yang tidak dapat dicegah dengan Al-Quran.” (Ustman bin Affan ra.)
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar Rahmaan: 60)

***KAMU TENTU PUNYA CATATAN SENDIRI***


 
Selamat datang di website M Arafat Imam G │ Website berisikan informasi buku, seminar, data diri dan kisah perjalanan karir │ Dikelola oleh Tim Redaksi Kim-Ara │ Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih